Kenapa Harus Dia?

Posted by Tembra Variantoro Sunday, March 27, 2011
Mereka tak akan tahu bagaimana rasanya nanar mata menewarang di tengah keramaian. Memilah, mengelompokkan, menggolongkan. Siapa yang biasa? Siapa yang dikhususkan? Yang mereka sebut-sebut sebagai manusia dengan pemahaman yang dilebihkan. Oleh karenanya didukung di berbagai kesempatan. Rasionalitas artifisial, hanya sarat kepentingan. Diluar golongan tak akan masuk hitungan.

Mereka tak akan tahu bagaimana pedihnya tidak memanusiakan manusia. Manusia? Hanya objek. Toh dibaliknya ada tujuan besar. Yang penting 'ini' bertambah, 'itu' berkurang.

Manusia lainnya? Hanya alat. Exploits you at will - Eksploitasi besar-besaran demi mencapai tujuan. Semua dianggap tahu makna sacrifice. Semua diiming-imingi dengan "setinggi apa diniat, itu pula yang didapat." Peduli setan dengan cara seperti apa! Semua dianggap sudah paham!

Itu hanya sebagian titik-titik frasa tak beraturan sebelum bulan kelambu.

Dan sesudahnya, makin sadis. Laiknya shinigami.

---

Ruh baru selalu dicari. Merpati-merpati itu ditangkar, dilatih dan dipekerjakan. Seketika menjadi gagak.

Aku hanya bisa menatap. Tanpa kata. Tak kuasa menjabarkan rasa.

Karena dahulu aku merpati.
Dan terkenalah aku dengan jaring-jaring mereka.

Dan tatkala aku lari,
mereka tak membiarkanku begitu saja.
Mereka patahkan sayapku yang kedua.
Hingga aku terseok-seok hanya dengan sebuah sayap.

Sementara sayap yang dipatahkan itu, mereka berikan kepada mereka yang disebut lebih paham.

...
"TERGANTIKAN."
---

Mereka bisa saja mengatakan hal itu. Tapi, tetap saja aku masih memiliki sebuah sayap. Meskipun begitu lemah, meskipun dari bawah terus dirundung panah. Meskipun mereka telah melukai dan membuatnya kelam.

Aku masih bisa mengepakkan sayapku.
Mencoba merentangkannya lebar-lebar demi menghangatkan - sebanyak yang aku bisa.
Mencoba cepat-cepat mengepakkan, demi mempercepat gerakan.

Meskipun, ah..
semuanya tak lagi sama..
---

Dia.
Kini aku menatapnya dengan sedih.
Sosok yang selalu kupandang dengan tegak hormat, penuh rasa kekaguman. Nampak ia sebagai merpati yang anggun dan menyenangkan.

Kini aku menatapnya dengan penuh rasa emosi. Kadang ketika rasa melampau, terasa basah mata ini.

Lindungi dia! Kumohon, lindungi dia!

"Mereka" berniat menjebak dia.

Aku bertanya-tanya apa yang bisa kulakukan dengan sebuah sayap usang...

"Mereka" berniat menjebak dia.
Kenapa harus dia?
Kenapa harus dia?

Tanpa terasa sebulir air jatuh dari sudut mata.
---

picture:
http://thrasherbacker.com/2011/03/23/darkness/
http://www.flickr.com/photos/cinamngrl514/

2 comments:

  1. Anonymous Says:
  2. izin copas

  3. boleh saja sih.. tapi untuk apa dan dimana?
    mengingat tingkat keabstrakan tulisan ini cukup tinggi... :)

Post a Comment

Daripada menggunakan "Anonymous" untuk memberi comment, sebaiknya gunakan "Name/URL". URL bisa dikosongkan jika memang dikehendaki.. :)

Terima kasih :)