Lima Hari Untuk Selamanya (Part V)

Posted by Tembra Variantoro Tuesday, September 7, 2010
Cerita sebelumnya...
Hari keempat.
Infus masih melekat.
Okelah, sehari dua hari lagi disini..
..tapi, infusnya mohon dilepas lah...
(kalo udah sembuh banyak maunya xD)

Dan ketika sarapan pagi disajikan (baca: ambil darah), saya masih bertanya-tanya: saya sakit apa sih?
Iya, saya tahu ini demam tinggi, tapi penyebabnya apa?
Tipus bukan, DBD bukan.
"Ada infeksi di tubuh, barangkali"

Errr.

Yasudahlah, saya anggap jawaban itu memuaskan.

Keluarga dari pihak ibu dan ayah bergantian menjenguk. Saya sering bercanda hal ini:
"Wah, kalo mau liat versi aku yang terkapar udah telat.. Sekarang sih udah bisa jumpalitan lagi.. xD"

Jumpalitan? Ngga berlebihan sih.

Suatu ketika datang room service yang menawarkan ganti sprei dan selimut.
Saya mengiyakan, mematikan infus, dan MELOMPAT dari tempat tidur dengan lincahnya.
Room service nya melotot,
"Biasa aja kali mas. Ngga buru-buru kok. Santai aja..."

Saya sudah sehaaat.. :D
Makanan mulai terasa enak lagi. Dan yang paling penting, suhu tubuh sudah dibawah 38. \(^o^)/

Uh-oh. Malam ini ada final piala dunia!
"MAMAAAAAAAAAAHH, PULAAAANGG.. HUUHUUUUHUUUUUUUU"
Oke, cerita ini terlalu didramatisir.

Di kamar kelas III memang ngga ada TV. Tapi, banyak jalan menuju Sparta.
Banyak lah pokoknya :3

Tengah malam, saya benar-benar terbangun dari tidur.
SPANYOL VS BELANDA
Huuoo..  <('o'<) | ^( '-' )^ | (>‘o’)>

Saya berjingkat dari tempat tidur, berusaha agar ibu yang menjaga saya tidak terbangun, kemudian keluar kamar. Saya menuju ke tempat para perawat berjaga. Tempatnya mirip dengan resepsionis suatu hotel lah. Yeah, ada satu orang perawat laki-laki yang juga sedang nonton bola!
"Mas, ikutan ya!"
Pertandingan berjalan seru. Sementara itu, sang perawat laki-laki itu menghilang dari pandangan. Mungkin mengecek pasien lainnya. Tapi, tunggu dulu. Masa' cuma ada satu perawat jaga sih?
Saya melihat sekeliling, dan voila, tiga sampai empat perawat wanita sedang tertidur di bawah, berselimutkan kain yang cukup tebal.
Mau difoto terus dimasukin ke Facebook, kok rasanya ngga tega ya... xD
Salut lah buat mereka itu.
Salut juga buat segenap manusia yang berusaha dalam kehidupannya.
Salut!
Oiya, jangan mikir macem2, semua perawatnya berjilbab kok (rumah sakit islam gitu). Dan memang tidurnya di tempat yang lumayan terbuka. Jadi saya bukannya melongok masuk untuk melihat-lihat. Ih, emangnya maling XD

Selama nonton, tentu saja infus saya mati. Dan ketika perawat laki-laki yang tadi muncul, dia mengusulkan saya untuk pindah tempat.
"Ada yang lagi nonton juga kok mas,"
Dimana?
Oh, ternyata di ruangan kelas II.
Yeah, banyak jalan menuju Sparta.

Ruangan ini sedang kosong satu tempat tidur. Sementara itu, saya melihat seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi, sementara infusnya digantung. Yak, infus saya pun digantung disitu, sehingga bisa menetes kembali. Mas-mas yang lagi nonton ini mungkin umurnya sekitar 30 tahun, dan sedang terkena DBD juga. Klop lah. Saya duduk di tempat tidur kosong itu dan menyaksikan pertandingan bola tanpa suara. Err.. Yasudahlah. Udah numpang, masa mau minta lebih :p

Kyaa...
Kyaaa..
Kyaaaaa..

Ok, Spanyol menang.
Iker bahagia.
Robben kecewa.
Saya sih senang-senang aja. Netral :p
Ahh.. Puaaaassssss


Tiba-tiba, Ibu saya melongok dari balik pintu.
"Ooh.. nonton bola disini toh.."
"Ehehehe"

Sesampainya di kamar, ibu ngedumel,
"Mama tuh nyariin kamu tau, tiba-tiba ngilang gitu.."
"Lah, kan kemaren udah bilang kalo malemnya mau nonton bola dulu"
"Tadi tuh, sampe bolak-balik toilet beberapa kali, takut kalo-kalo kamu jatuh dari kamar mandi atau gimana..."
"... sampe-sampe ada yang nanyain 'Nyari apa bu?' 'Anak saya.... T.T'"
Wo-ow, saya ternyata sudah jadi anak ilang.
"...ke tempat perawat, kamunya ngga ada. Akhirnya, mama nanya ke perawat itu, taunya kamu lagi nonton di ruangan sebelah.."
Hyaa.. Hya.. Ampun.. Maaf yak.. ^^;

Keesokan harinya, saya jadi bahan bully-an ibu-ibu yang sedang jaga di kamar itu. Apalagi ibu yang kemaren sempet nanya ke ibu saya, "Nyari apa bu?". Beuh, getol banget nge-bullynya.

Hahaha.

Saya teringat, bahwa saya belum mengabadikan momen-momen saya selama di rumah sakit.
Menyeka tubuh? Sudah. Ganti baju? Sudah.
Ok, saatnya foto-foto xD
Fotonya tak perlu saya upload lah, cukup sebagai arsip pribadi saja.
Saya tak ingin menjadi seterkenal Ariel atau Luna Maya... (lho?)

Hari ini hari kerja. Seharusnya dokter masuk, dan setidaknya orangtua bisa berkonsultasi tentang keinginan saya untuk pulang. Sayang dokternya tak kunjung datang, meskipun hari sudah beranjak sore.
Seorang perawat masuk.
"Mbak, ganti infus lagi nih?"
"Iya.. Tuh udah mau abis"
"Ngga usah lah mbak, udah mau pulang kok. Ngga dilepas aja?"
"Udah ngomong ke dokternya belum?"
"Belum sih.."
"Yaudah~~~"

HAUM.

Iseng saya bertanya,
"Btw, botol infusnya itu nantinya dibuang atau gimana?"
"Iyalah, dibuang. Ngga mungkin dipake lagi.."
"Oooh.." (mengerjapkan mata)
"....
Mau?"
"Boleh deh xD"
"Yaudah nih, ambil aja. Buat kenang-kenangan."

Dan sampe sekarang botol infus itu masih menggantung dengan indahnya di kamar saya...
***

Alhamdulillah, pada akhirnya ba'da Isya saya pulang. Infus sudah dicabut (yay! <('o'<) | ^( '-' )^ | (>‘o’)>).  Dan suhu tubuh pun sudah kembali normal...

Aaaaah..
Lima hari yang berkesan.
Bahwa merugilah orang-orang yang tak bisa mengambil hikmah dari suatu kejadian.
Lima hari untuk selamanya..
Semoga lima hari ini cukup menjadi pengingat diri ini untuk selamanya...
betapa jarangnya saya mensyukuri nikmat kesehatan..
betapa seringnya saya menyia-nyiakan kesehatan yang diberikan oleh Allah...
betapa banyak orang yang menyayangi saya....

Semoga cukuplah lima hari ini berada di rumah sakit...
Jangan lagi-lagi, ya Allah...

Alhamdulillah. Alhamdulillah...


Syafakallah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba'dahu saqaman.
Ihdinash shiratal mustaqim...






-seri lima hari untuk selamanya - selesai - 

0 comments:

Post a Comment

Daripada menggunakan "Anonymous" untuk memberi comment, sebaiknya gunakan "Name/URL". URL bisa dikosongkan jika memang dikehendaki.. :)

Terima kasih :)