Tentang Pemimpin

Posted by Tembra Variantoro Sunday, August 22, 2010
konon tulisan ini dipublikasikan di Irfan Magz (buletin rohis 8)
dan saya temukan di sela-sela folder komputer saya,
daripada "membusuk" karena didiamkan, lebih baik saya taro di blog aja ^^


“Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya” 
(H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas, kita dapat melihat bahwa setiap manusia adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Memang, sebelum memimpin orang lain, manusia sudah seharusnya menjadi pemimpin yang baik bagi dirinya sendiri. Nah, kemampuan seseorang dalam memimpin dirinya dapat terlihat dari bagaimana seseorang itu mengatur apa saja yang ia lakukan dalam kesehariannya. Seperti mengatur dan membagi waktu kegiatan, memilih yang terbaik untuk kepentingan sendiri atau orang banyak, bertanggung jawab dan berusaha melakukan apa yang telah ia pilih dengan sungguh-sungguh dan mengusahakan kemampuan yang terbaik, juga berbagi kepada sesama akan apa yang ia miliki sehingga bermanfaat untuk lingkungan sekitarnya. Sadar nggak sih teman-teman, apa-apa yang kita lakukan, baik perkataan maupun perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti karena kita lah yang menjadi pemimpin diri kita sendiri, sesuai seperti kandungan hadits di atas.

Berlanjut dari memimpin diri sendiri, saat ini banyak sekali tantangan di luar sana yang memanggil kita untuk menjadi seorang pemimpin pada suatu kelompok tertentu yang mana dengan mudahnya pula panggilan-panggilan itu diterima secara langsung tanpa mengindahkan konsekuensi apa yang akan dihadapinya di depan nanti. Banyak pula pemimpin yang melupakan tugas awalnya selama perjalanan kepemimpinannya. Hal ini dapat terjadi karena si pemimpin tidak mengindahkan hakikat dari kepemimpinan itu sendiri.

Ada beberapa poin penting mengenai hakikat pemimpin sesungguhnya yang perlu diterapkan dalam proses kepemimpinannya, yaitu sifat (PK)² T. Apa itu (PK)² T?

Pengorbananbukan fasilitas
Pelayananbukan dilayani
Kerja keras, bukan santai
Keteladanan dan kepoloporanbukan pengekor
Tanggung jawabbukan keistimewaan

A. P – Pengorbanan
Dahulu, khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah seorang kaya raya yang biasa menghabiskan uang yang cukup besar hingga 400 dirham untuk membeli pakaian. Namun setelah ia diangkat menjadi seorang khalifah, ia hanya memakai baju seadanya yang harganya hanya 10 dirham. Ia tidak mau menghabiskan uang yang besar untuk kepentingan pribadinya sedangkan anggaran untuk kepentingan masyarakatnya sangat besar pula.
Oleh karena itu, selayaknya seorang pemimpin menjadi orang yang berkorban lebih banyak dibandingkan dengan yang dipimpinnya.
Dengarlah sumpah dari Umar bin Khatab ini : ”Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin menjadi orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin menjadi orang terakhir yang menikmatinya.

B. P – Pelayanan
Pemimpin dan yang dipimpin dapat diibaratkan dengan kisah seorang pelayan dan pelanggan. Pemimpin adalah pelayan, sedangkan yang dipimpin adalah pelanggannya, dan bukan sebaliknya. Alangkah hinanya jika seorang pelayan menuntut dilayani oleh pelanggannya!
Pemimpin yang akhlaknya rendah akan menempatkan dirinya sebagai penguasa, sedangkan pemimpin yang akhlaknya tinggi akan menempatkan dirinya sebagai pelayan.
Pemimpin juga bukanlah seorang yang serba ingin dilayani segala hajat hidupnya. Ingatlah kisah Baginda Rasulullah SAW dan Khulafaurrasyidin. Sekalipun telah menjadi khalifah dan amirul mukminin (pemimpin orang-orang mukmin), mereka sama sekali tidak merasa hina untuk mengangkut kayu bakar sendiri, mencuci baju sendiri, menumbuk gandung sendiri, dan lainnya.

C. K – Kerja Keras
Bukanlah seorang pemimpin jika ia hanyalah seorang yang senantiasa menyuruh-nyuruh yang dipimpinnya. Bukanlah seorang pemimpin jika hanya lidahnya yang tajam namun tangannya tumpul. Pemimpin adalah seseorang yang menyadari bahwa dirinya sendiri adalah bagian dari tim, sehingga ia pun memiliki jatah kerja yang sama dibandingkan yang dipimpinnya.
Orang yang senantiasa menyuruh-nyuruh adalah boss, bukan pemimpin. Maka buatlah kinerja nyata, wahai para pemimpin!

D. K – Keteladanan
Keteladanan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh para pemimpin. Dan ketika ditanyakan keteladanan macam apa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka jawabannya adalah keteladanan dari Baginda Rasulullah SAW secara keseluruhan. “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)”
Maka bagi para pemimpin, hendaklah banyak-banyak membaca kisah Rasulullah SAW dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Akan sangat sulit menemukan pemimpin yang memiliki keteladanan terbaik jika pemimpin itu jauh dari apa-apa yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW.

E. T – Tanggung Jawab
Seperti halnya memimpin diri sendiri dimana perkataan dan perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti; semua keputusan dan tindakan dari seorang pemimpin pun akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak, bahkan pertanggungjawaban itu lebih besar lagi. Menjadi seorang pemimpin sesungguhnya bukanlah suatu keistimewaan, tapi suatu tanggung jawab besar yang harus dipikul untuk melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”(QS: Al Ahzab : 72)
*****

Suatu hari Harun Al Rasyid pernah ditanya, “Jika suatu hari engkau sedang berada di tengah padang pasir yang gersang, sedang engkau kehausan dan tidak memiliki air setetes pun, lalu datanglah kepada engkau seseorang yang menawarkan segelas air, maka berapakah harga yang akan kau bayar untuk segelas air itu?” Harun Al Rasyid menjawab, “Separuh dari kerajaanku.” Kemudian ia ditanya lagi, “jika kemudian air yang kau minum itu tidak dapat keluar, sedangkan engkau ingin mengeluarkannya, berapa yang hendak Engkau bayarkan untuk mengeluarkan air itu?”. Harun Al Rasyid menjawab, “Separuh dari kerajaanku.” Kemudian dikatakan kepadanya, “Maka harga seluruh kerajaanmu itu hanyalah seharga segelas air! Masihkah engkau berbangga dengannya?”

Harun Al Rasyid pun menangis sejadinya.
Disini, kita pun selayaknya menangis.


Ya, kedudukan, kekuasaan, dan kekayaan bukanlah sesuatu yang dapat kita banggakan.

Ya Allah, tunjukilah hambaMu...

Amin.

Wallahu alam bishshawwab.

2 comments:

  1. Teras Info Says:
  2. Artikel yang sangat memotivasi sekali....
    Terimakasih banyak.....

    Salam kenal....

  3. terima kasih sudah berkunjung..

    Salam kenal.. :)

Post a Comment

Daripada menggunakan "Anonymous" untuk memberi comment, sebaiknya gunakan "Name/URL". URL bisa dikosongkan jika memang dikehendaki.. :)

Terima kasih :)