Saya [Belum] Ikhlas...

Posted by Tembra Variantoro Saturday, August 21, 2010
"Baca Quran di tengah-tengah keramaian orang? Tidak. Saya tidak mau. Jika seperti itu, akan muncul sifat riya di dalam hati saya. Bukankah segala sesuatu amal itu tergantung kepada niatnya? Lalu, apa artinya saya membaca Al Quran ditengah keramaian jika saya tidak ikhlas? Apapun yang terjadi, tetap saja saya tidak mendapatkan bagian pahala dari aktivitas ini!"

Kemudian, tatkala seseorang kumal, menadahkan tangannya meminta sedekah, kembali hati berkecamuk. "Saya ingin amal ini diterima! Jika saya memberikan sedekah disini, maka orang-orang akan melihat saya. Hati saya pun pasti akan riya dan bangga. Bukankah Allah membenci orang-orang yang riya'? Bukankah Allah menganjurkan kita untuk beribadah dengan penuh rasa pengharapan dan rasa cemas bahwa ibadah tidak akan diterima? Maka kecemasan saya ini beralasan!"

"Pergilah ke masjid dan mengajilah, nak!" Jika aku melangkahkan kaki, maka sungguh ibadah ini semata-mata karena diperintah orangtua, bukan karena perintah Allah. Untuk apa aku melakukannya? Allah tidak akan sekali-kali menerima ibadah yang tidak diniatkan untukNya. Maka lebih baik aku tidak pergi!

Tersirat pikiran, sering terlintas dalam hati. Kadang begitu menyengit, seolah-olah terjadi kontradiksi dalam agama ini. Prasangka melebar kemana-mana, seolah-olah agama ini susah. Prasangka meruncing, hingga berpikir jadi manusia itu serba salah. Padahal berputus asa dari rahmat, karunia, dan pahala Allah itu sangat salah. Namun, dengan mudahnya, pikiran memanipulasi, hingga terasa, pendapat sendiri itu benar sekali.

Ikhlas itu memang penting. Sumpah, memang penting. Namun, keikhlasan itu adalah rahasia Allah. Tak seorangpun makhluk yang dapat menilai dirinya ikhlas atau tidak.

Niat itu memang penting. Sumpah, memang penting. Namun bukan berarti kita tidak dapat meluruskan niat kembali. Tak ada manusia yang tidak khilaf, tidak berbuat salah, dan tidak berdosa. Jika suatu ketika niat kita tiba-tiba berubah, maka cukupkanlah beristighfar dan meluruskan kembali niat. Tak perlu sampai berhenti karena was-was!

Rasa kekhawatiran yang berlebihan bukanlah kebenaran apalagi hidayah! Setan yang hina dan terkutuk senantiasa berusaha keras untuk menyempitkan manusia, memasukkan berbagai kesempitan dan kesusahan dengan membisikkan perasaan was-was sehingga menjadi suatu penyakit yang diidap oleh seseorang. Maka jauhilah! Jauhilah!

Konyol namanya jika kita berhenti berbuat baik hanya karena takut tidak ikhlas!



aku menulis tulisan ini, dan ini adalah pedang tajam untuk hidupku.

1 comments:

  1. Anonymous Says:
  2. Al imam Fudhail bin iyadh berkata : "meninggalkan amal adalah termasuk salah satu bentuk riya. dan was was terhadap suatu amalah yg akan kita kerjakan itu dikhawatirkan riya, maka kita telah berbuat riya ".
    oleh karenanya.. berbuatlah ..beramalah... dan luruskan niat hanya untuk Alloh semata. wallohu a'lam bishowab.

Post a Comment

Daripada menggunakan "Anonymous" untuk memberi comment, sebaiknya gunakan "Name/URL". URL bisa dikosongkan jika memang dikehendaki.. :)

Terima kasih :)