Puasa Batal Karena Bohong?

Posted by Tembra Variantoro Sunday, August 29, 2010
Di suatu siang, dua anak kecil sedang mengobrol...
Badu : Jadi kalo dua orang pegangan tangan itu bisa bikin hamil?
Budi : Iya, bener!! Makanya, lo jangan suka pegangan tangan sama si dinda...
Badu : Serius?
Budi : Serius!
Badu : Jangan boong lo.. Bulan puasa ngga boleh boong, ntar puasanya batal loh...
Budi :  Gue ngga boong! Serius!!
Budi : (pucat) Kalo dinda hamil, nanti gue gimana? Hwa... (lari pulang sambil nangis)

Di rumah Budi...
Budi : Yah, tadi gue udah terlanjur ngeboongin si Badu. Katanya, puasa gue jadi batal ya? Yaudah deh, gue minum aja, daripada gue capek-capek haus tapi puasanya udah batal...

*cerita setengah fiktif dengan bumbu lebay
**sekali-kali tokoh Budi yang jadi antagonis ah, masa Badu terus. Kasihan kan, dari zaman SD Badu terus yang jadi anak nakal xD

Di postingan sebelumnya, setidaknya kita sudah ingat hal-hal apa saja yang membatalkan puasa. Adakah termasuk "bohong" membatalkan puasa? Tidak tuh..

Usut punya usut, ternyata ada suatu hadits yang menyatakan bahwa bohong itu membatalkan puasa. Begini bunyi haditsnya....

"Lima hal yang membatalkan orang berpuasa, dan membatalkan wudlu. Berbohong, mengumpat, mengadu domba, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan sumpah palsu."

Eh, tapi jangan kaget dulu.. Usut punya usut (lagi), ternyata hadits itu dhaif bahkan mendekati maudlu alias palsu!
Dikutip dari Buku "Hadis-hadis Bermasalah", karya Ali Mustofa Yakub, Penerbit: PT. Pustaka Firdaus, Jakarta, hal. 182-184,
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu al-Fath al-Azdi dalam kitabnya al-Dhu’afa wa al-Matrukin, dan al-Dailami dalam Musnad al-firdaus, berasal dari Anas bin Malik. Imam al-Suyuti menyatakan bahwa Hadits ini dha’if. Sementara para ahli Hadits lain, seperti Abu Hatim, Ibn al-Jauzi, al-Iraqi dan al-Dzahabi menilai Hadits ini palsu. Hadits ini juga tercantum dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din, Hadits ini palsu. Juga tercantum dalam kitab Durroh al-Nashihin karya Utsman al-Khubbani, tanpa menyebutkan kualitasnya. Penilaian al-Suyuti ini tidak bertentangan dengan penilaian para ahli Hadits yang lain, karena Hadits palsu itu bagian dari Hadits dha’if.

Kepalsuan Hadits ini cukup parah, karena di dalam sanadnya terdapat rawi-rawi pendusta. Mereka itu antara lain Sa’id bin Anbasah, Muhammad bin al-Hajjaj al-Himshi dan Jaban. Menurut kritikus Hadits Imam Yahya bin Ma’in, Sa’id bin Anbasah adalah pendusta. Begitu pula menurut kritikus Hadits al-Iraqi. Sementara Muhammad bin al-Hajjaj al-Himshi menurut al-Azdi tidak boleh ditulis Haditsnya. Sedangkan Jaban menurut al-Dzhabi tidak dikenal identitasnya, bahkan menurut al-Azdi, Jaban adalah matruk al-Hadits (Haditsnya matruk, semi palsu). 

Horeee.. Jadi boleh dong bohong saat puasa?

Ya enggaklah.

Rasulullah bersabda,

"Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum." (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 876)
"Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga." (Riwayat Ibnu Majah) 
Hadits ini shahih saudara-saudara.. Sekali lagi, shahih!

Hal inilah, yang sering disebut dengan mengurangi pahala puasa atau bahkan membatalkan PAHALA puasa. Kewajiban puasanya memang telah terpenuhi, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus. Ditambah lagi, ia berdosa karena sudah berbohong.

Ibaratnya, seperti seorang supir taksi yang sedang mengejar setoran. Dia ngga dapat uang, kecuali cuma untuk kejar setoran. Akhirnya, dia pulang ke rumah dengan tangan hampa. Di rumah, istrinya marah karena sang supir taksi ngga bawa uang. Sang supir taksi pun ngga diperbolehkan masuk ke rumah dan terpaksa tidur di teras...

Puasa tapi ngga dapet pahala? Capek deh..


Kalo gitu, kalo udah boong, mendingan ngga usah puasa juga donk. Ngga dapet pahala gitu.
Ya ngga juga lah!
Kalo kasusnya seperti itu, dosanya malah makin tambah karena lalai menjalankan perintah Allah. Padahal Allah telah mewajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan.


Terus saya mesti bagaimana donk?
Kalau terlanjur ya istighfar.. Dilanjutkan dengan menjelaskan kebenarannya dan tidak mengulanginya...

Selanjutnya? Ya jangan bohong :p

4 comments:

  1. Anonymous Says:
  2. terimakasih bnyk atas saran dan info nya..

  3. good,like this.

  4. abhirama Says:
  5. Suka

  6. Anonymous Says:
  7. makasi

Post a Comment

Daripada menggunakan "Anonymous" untuk memberi comment, sebaiknya gunakan "Name/URL". URL bisa dikosongkan jika memang dikehendaki.. :)

Terima kasih :)