Lima Hari Untuk Selamanya (Part III)

Posted by Tembra Variantoro Tuesday, August 31, 2010
Cerita Sebelumnya...

Alhamdulillah, setelah suhu tubuh saya memuncak hingga 40 derajat lebih, perlahan panas ini mulai menunjukkan kecenderungan menurun. Rasa pusing dan sakit di sekujur tubuh berganti dengan rasa pegal-pegal. Mungkin karena tubuh ini harus menerima suhu yang sedemikian panasnya selama 3 hari. Kalau sudah pegal-pegal seperti ini, rasanya ingin membanting-banting tubuh saja. Untunglah saya teringat bahwa tangan ini masih terinfus. Okelah, jangan banyak bergerak dulu.

Soalnya selama di rumah sakit, saya tergolong pasien yang rewel karena sering manggil-manggil perawat. Alasannya cuma satu: infusnya ngga netes. Biasanya karena saya mematikan infus setiap buang air kecil, dan ketika dinyalakan kembali infusnya macet. Selain itu, darah saya juga sering naik di selang infus. Yang paling parah adalah ketika suatu malam, saya terbangun dan menemukan bahwa darah saya sudah naik sekitar 15 cm di selang infus. Rasanya mau pingsaaan~~~~ Dan mungkin karena itu pulalah infus saya sering macet. Walhasil infus ini sudah dibongkar pasang sebanyak dua kali. Serius, rasanya ngga gurih.

Saking seringnya manggil, saya (nyaris) "ditandain" oleh para perawat. Pernah suatu ketika ada panggilan bel dari kamar saya, dan seorang perawat dengan santainya langsung melongok ke bilik saya. 
"Eh, kali ini bukan saya, mbak. Pasien lain tuh"

Well.

Oiya, saya belum menggambarkan beberapa pasien yang ada disekeliling saya...
Satu kamar ini terdiri dari enam orang, dan diantara pasien lainnya mungkin saya yang paling bergairah (baca: paling muda). Sakitnya macam-macam. Ada yang sakit ginjal karena sudah usia tua. Ada juga yang diabetes hingga jari kakinya harus diamputasi. Ada pula yang tidak bisa merasakan kakinya karena kecelakaan kerja yang membuat syarafnya bermasalah.

Ok. Ok. Ok.
Saya ngga boleh banyak mengeluh. Saya ngga boleh banyak mengeluh.
Bersyukur, bersyukur, bersyukur.

Hmmh.. Ini sudah hari ketiga. Meskipun panas saya belum bisa dikatakan normal, tapi saya sudah mulai mendapatkan kesadaran saya secara penuh. Yak, bisa gokil-gokilan lebih maksimal lagi nih :p
Kalo kemarin-kemarin saya hanya bisa tergeletak, maka sekarang saya sudah mulai bisa mengapresiasi dan mengomentari berbagai kejadian disekeliling saya...

Setiap pagi ada seorang "Penceramah" yang memberikan siraman rohani kepada pasien. Rumah Sakit Islam gitu :p. Sebelumnya, saya tidak sadar. Wong setiap kali beliau datang saya sedang terkapar
Jika seseorang sedang sakit, maka senangkanlah hatinya. Kaidah ini pula yang digunakan para penceramah ini. Oleh karena itu, saya tidak didakwahi macam-macam, tapi lebih diajak ngobrol.
Yah, akhirnya saya pun ngalor ngidul dengan bapak-bapak ini. Kadang pasien lain pun ikut tertawa dengan obrolan kami. Doh. Doh. Doh.
Salah satu isi pembicaraannya:
"Pacar kamu udah kesini belum?"
"Jangankan pacar, temen-temen saya aja pada ngga saya kasitau..."
"Lho? Tapi ada kan?"
"Errrr.... Ngga deh, makasih"
"Kenapa nih? Ditolak terus ya sama cewek?"
"Woh, justru saya yang nolak mereka semua."

PD

Hahaha.

Lanjut,
Setiap jam 10 pagi, selalu ada pemeriksaan rutin dari rumah sakit. Cek suhu, tensi, dan perkembangan. Di detik itu, saya baru sadar bahwa orang-orang yang melakukan pemeriksaan rutin adalah para calon dokter yang sedang co-as di rumah sakit ini. Artinya, masih muda-muda lah :3

"Mbak, dari universitas mana?"
"Oh, dari Muhammadiyah Jakarta.."
"Semester berapa sih emangnya kalo mulai co-as?"
"Saya sih sekarang lagi semester tujuh.."
"Oh..."
"Kamu sekolah? Di SMA mana?"
"Saya udah kuliah loh. Semester lima lagi.. XD" ~bangga gitu~
"Lho, 18 tahun kan?"

Ibu saya menimpali dengan cerita keakselan saya. Sementara itu, saya membaca nametag orang ini dan menghafal namanya. Begitu orang ini pergi, saya langsung cek di HP, add facebooknya, dan voila pada akhirnya saya diapprove xD.
iseng banget yak? XD

Pagi berlalu.. Sebenarnya saya sudah ngga sabar ingin pulang. Makanya saya merengek-rengek minta pulang ke orangtua (merengek? XD). Tapi prosedur untuk pulang itu harus menunggu persetujuan dokter. Dan karena hari libur, maka dokternya ngga masuk. Err...
Tapi tetap saja, orangtua saya belum mengizinkan saya untuk pulang karena suhu tubuh belum terlalu normal. Penyakitnya dituntaskan dulu, katanya.
Hmm.. Iya ya..
Kapan saya bisa sepenuhnya sembuh dan pulang ya?


0 comments:

Post a Comment

Daripada menggunakan "Anonymous" untuk memberi comment, sebaiknya gunakan "Name/URL". URL bisa dikosongkan jika memang dikehendaki.. :)

Terima kasih :)