Lima Hari Untuk Selamanya (Part II)

Posted by Tembra Variantoro Friday, August 27, 2010
Cerita Sebelumnya...

Malam itu saya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Berkali-kali terbangun dan berkali-kali terkejut dengan keadaan. Ditambah pula dengan rasa tidak nyaman dengan infus di tangan. Aaaaaah... bersabarlah! Setidaknya rasa sakit di sekujur tubuh mulai terobati akibat suntikan beberapa saat yang lalu.
Terus dan terus.. Hingga akhirnya pagi datang.
Jam 4 pagi, siaran radio yang bertemakan Islami mulai mengalun lembut di kamar itu. Talkshow, tilawah Quran, dan... azan... Saatnya kembali mengadu ke sang Pencipta. Sambil terus berusaha memastikan, bahwa sakit ini tidaklah sia-sia..

"Sarapan pagi" saya adalah pengambilan darah. Yaa.. jarum lagi.. = =; Sekali lagi, saya bukanlah tipe orang yang suka ditusuk-tusuk --;. Namun setidaknya, kali ini hanya di ujung jari. Masih oke lah :p

Makanan demi makanan rumah sakit yang masuk ke mulut saya terasa begitu hambar. Entahlah, apakah memang makanannya dikurangi garam atau lidah saya yang sedang tidak beres. Tapi di detik itu, saya begitu yakin bahwa memang makanannya yang kurang garam. Sayapun meminta orangtua saya untuk membelikan garam dan permintaan itu ditolak secara sukses... 

Kembali mengecek temperatur. 39,2. Ok. Sekali lagi, saatnya kembali tergeletak. 

Seharian, saya hanya tidur dan tidur.. Ketika terbangun, langsung saya dicekoki air putih. Jadi teringat sapi gelondongan.. Minum air banyak-banyak memang obat demam terbaik. Menjamin sirkulasi tubuh, dan dapat  mengeluarkan panas tubuh via urine. Baiklah. sapi sapi deh.
Banyak minum, implikasinya adalah banyak buang air kecil. Dan setiap kali buang air kecil, saya harus mematikan infus, berjalan ke toilet, menggantung infus, *sensor*, lalu kembali ke tempat tidur. Masalahnya adalah setiap kali saya kembali dengan selamat di tempat tidur, jantung saya selalu berdebar dengan kencangnya. Lelah, padahal jarak toilet sangat dekat. Yasudahlah, terpaksa menggunakan alternatif lain ^^; :p.

Dalam tidur, sayup-sayup saya mendengar beberapa orang tetangga yang datang menjenguk.. Wuah.. Kalo ada yang sakit, Ibu-ibu jenguknya cepet yak... Saya pun teringat bahwa saya belum mengabari sakit saya ini kepada teman-teman... Ah, yasudahlah...

Satu hari.. Dua hari... 39 derajat celcius lebih terus bertahan di tubuh ini.
Hasil cek darah sudah keluar. Hasilnya, trombosit cenderung berada dalam ambang normal. Sekali lagi, cek darah. Kali ini untuk pengecekan tipus. Tidak seperti pengecekan trombosit, untuk mengecek indikasi tipus, dibutuhkan jumlah darah yang lebih banyak. Artinya, sumber pengambilan darah tidak lagi di ujung jari, tapi di pangkal lengan...
Jarum (lagi) @.@

Malam ketiga... Suhu tubuh saya mencapai 40 derajat celcius lebih...
Walaupun jujur, saya tidak merasakan sakit yang keterlaluan. Saya hanya terbaring lemas, dan baru mengetahui fakta itu keesokan paginya. Yang jelas, sepanjang malam ibu sibuk mengompres sekujur tubuh saya. Terima kasih.. Terima kasih.. Terima kasih... Rasanya saya harus terus membaca tulisan ini setiap kali saya membantah orang tua saya.. Setiap kali saya merasakan ketidakadilan orangtua saya... Atau setiap kali saya melihat ketidaksempurnaan orangtua.. Karena seharusnya, justru saya mencintai kalian, karena ketidaksempurnaan kalian..

Paginya, suhu tubuh kembali menjadi 39 derajat. Sebagai gantinya, lidah terasa sangat pahit. Mual. Tak enak untuk makan.

Alhamdulillah, sepanjang hari itu, suhu tubuh beranjak menurun hingga 38 derajat.
Hasil pengecekan darah telah keluar. Dan hasilnya negatif. Saya tidak tipus. Trombosit saya memang turun, namun kecenderungannya tidak selalu turun. Lagipula, meskipun naik turun, jumlahnya masih berada dalam batas normal.
Entahlah, apa yang akan terjadi selanjutnya..
Hanya satu hal, jika Allah telah berkehendak, maka sesungguhnya Ia telah menetapkan sesuatu untuk kita. Entah Ia ingin menggugurkan dosa-dosa kita, entah Ia ingin menegur kita atau malah mungkin Ia ingin mengangkat derajat kita. Yang jelas, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan saya tidak boleh berburuk sangka terhadap keputusanNya...



0 comments:

Post a Comment

Daripada menggunakan "Anonymous" untuk memberi comment, sebaiknya gunakan "Name/URL". URL bisa dikosongkan jika memang dikehendaki.. :)

Terima kasih :)