Lima Hari Untuk Selamanya (Part I)

Posted by Tembra Variantoro Tuesday, July 27, 2010
Saya terbangun dengan perasaan yang kacau.
Baru saja saya bermimpi tentang kumpulan-kumpulan matriks dan berbagai bentuk dimensi ruang.
Kepala saya pusing.

Saya mengambil waktu sejenak untuk merasakan sekujur tubuh saya. "Sumpah, ini panas."  Saya pun kembali tidur, meringkuk. Dan ketika ibu saya datang menghampiri saya, karena anaknya tak kunjung bangun meski hari sudah siang, saya mengangkat tangan saya. "Mah, aku sakit."

Dan, tentu saja, ibu saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya langsung dibanjiri dengan nasehat dan petuah, "Makanya kalau tidur jangan malam-malam... Makan tuh yang teratur.... Hidup jangan sembarangan....". Ya, inilah kesempatan untuk menasehati saya; saya yang tanpa perlawanan. Jika saya sedang sehat, niscaya begitu seringnya saya ngeles dengan segala nasehat-nasehat :p. -Dasar anak muda zaman sekarang... Hobinya ngeles! 

Agak lucu juga sih, sementara ibu menasehati saya sambil membereskan beberapa barang yang berserakan disekitarnya; saya sedang terkapar, terdiam, dan hanya bisa patuh tanpa daya sambil melambaikan tangan,
"Ampun.. ampun.. >.<". Hahaha, makanya, jangan sering ngeles! Astaghfirullah.. Memang inilah saat terbaik untuk introspeksi diri.. Mohon ampun ya Allah.. ^^;

Tentu saja, kedua orang tua saya begitu khawatir dengan keadaan anaknya yang terkapar tanpa daya. Saya pun mengukur suhu tubuh : 38.5 derajat celcius. Alasan yang logis mengapa saya merasa sangat pusing dan seluruh persendian saya terasa nyeri. Sepanjang hari saya cuma bisa tertidur dan tertidur.. dengan posisi meringkuk menahan sakit di sekujur tubuh, dan sakit kepala yang luar biasa.. Ibu saya pun menjadi orang sibuk di hari itu. Mengompres saya dengan air hangat, dan menyuapi saya yang kehilangan nafsu makan. Subhanallah, di saat seperti ini saya menyesal karena betapa jarangnya saya mengucapkan "I love you, Mom". Rasa-rasanya bahkan bisa dihitung dengan jari.. Astaghfirullah.. :(

Jam satu siang. Ah, seharusnya saya sedang Ujian TBA di detik ini.. Ah.. seharusnya saya memberi kabar ke seseorang perihal absen saya hari ini.. Tapi, entah mengapa, hal itu tak terpikirkan di detik itu.. Kembali saya mengukur suhu tubuh... 39.2 derajat celcius. Oke. Saatnya kembali tergeletak.

Dan suhu tubuh itu bertahan hingga sore hari. Sekujur tubuh terasa sakit. Sulit untuk bergerak, bahkan untuk ke kamar mandi sekalipun. Sulit untuk shalat sambil berdiri. Parasetamol yang saya minum nampaknya belum memberikan reaksi positif. Hingga akhirnya, ba'da maghrib saya dibawa ke dokter. Biasanya, saya adalah orang yang paling rewel kalau diajak ke dokter. Selalu menolak, dengan alasan bahwa saya yakin sistem imunitas tubuh pemberian Allah ini pasti bisa mengusir penyakit tanpa bantuan dokter. Lagipula, saya merasa bahwa saya sudah menghambur-hamburkan uang dengan pergi ke dokter, hehe. Namun, di detik itu, saya patuh. Mungkin sudah tidak tahan dengan rasa sakit di sekujur tubuh, rasanya ingin cepat disuntik mati disembuhkan saja.

Dokter langganan keluarga kami adalah Dokter Ridwan. Dokter umum yang berpraktek mulai sore hari. Kalau saya menyebut beliau dengan dokter radang, karena begitu seringnya beliau mendiagnosis penyakit sebagai radang tenggorokan. Bayangkan, pernah saya datang ke beliau sambil mengeluhkan sakit perut, tapi beliau tetap mendiagnosis radang tenggorokan. Itu masih mending, pernah ada tetangga saya yang gatal-gatal di tubuhnya, kemudian ia berobat ke dokter ini. Tebak apa diagnosisnya? Ya, radang tenggorokan! Hahaha. Tapi, percayalah, kami sembuh! Subhanallah.. Untuk yang satu ini, saya no comment deh.. xD

Dan tentu saja, saya berharap diagnosa kali ini juga radang tenggorokan. Karena, bagaimanapun juga, demam saya ini bisa saja terdiagnosa macam-macam. Tidak menutup kemungkinan tipus atau demam berdarah. Karena beberapa tahun yang lalu, kakak saya sempat didiagnosa DBD oleh beliau. Dan memang benar, kakak saya terkena DBD hingga harus dirumahsakitkan.

Yah, hingga akhirnya giliran saya diperiksa tiba. Dan setelah serangkaian tes "tekan-tekan perut" dan "acung-acung stetoskop" saya didiagnosis terkena penyakit usus buntu. Err...
"Ini langsung saya kasih surat rujukan ke rumah sakit aja ya biar langsung di cek darah"
"Err.. kok bisa usus buntu sih dok?"
"Iya, bisa aja ini dari radang tenggorokan, kemudian virus-virusnya turun ke bawah, ke usus buntu deh..."
"Ngga bisa dikasih obat aja dok?"
"Ya.. palingan saya cuma ngasi obat penurun demam aja.. Tapi emang lebih aman cek darah dulu..."
Sementara itu ibu saya menyela, "Iya.. udah.. biar lebih pasti sakitnya apa, kita cek darah dulu aja.."
"Errr...."

Kami pun keluar dari klinik itu tanpa obat, tanpa resep, hanya ada surat rujukan. Dan sumpah, sampai detik itu pun saya ngga ngerti usus buntu  itu apaan?

Dan, ya, saya dibawa ke rumah sakit.

Diluar klinik, taksi sangat jarang lewat. Saya sendiri kesini naik bajaj bersama ibu saya. Ayah saya menyusul sepulang kerja jalan kaki, karena memang letak kliniknya ngga terlalu jauh dari rumah, bisa dibilang deket malah. Ke rumah sakit? Naik angkot mungkin agak mustahil, melihat saya yang udah kaya' orang mabok. Akhirnya kami naik bajaj bertiga! Masya Allah.. Kasian tu bajaj! xD
Kami pun bergegas ke Rumah Sakit Islam Pondok Kopi. Dahulu, ayah dan kakak saya pernah dirawat disana. Me next? Duh, jangan sampai.. T.T

Disana saya langsung digeletakkan di UGD. Standar SOP rumah sakit sih kaya'nya. Soalnya saya ngga gawat darurat banget ah. Cuma demam tinggi-sakit kepala-sakit sendi-dengan bumbu rasa mau pingsan aja kok. Dan dokter jaga pun menghampiri kami..
"Wah, kalo seperti ini susah Bu.. Soalnya leukositnya masih belum terdeteksi"
hah? kok bisa belum terdeteksi sih?
"Sebaiknya sih dirawat dulu aja Bu.. Supaya bisa dikontrol juga.."
oh no!
"Yaudah deh, dirawat aja" ayah saya menjawab, lugas.
apa apa apa apa apa? Sebelumnya saya belum pernah dirawat. Apakah keperawanan saya dalam hal dirawat ini akan hilang begitu saja hari ini? (lebay)
"Serius, Pah. Sayang uangnya. Ngga usah aja lah.. Coba minum obat aja dulu!"  
duh, 'keperawanan'ku.
"Udah. Kalo disini kan, kalo ada apa-apa, bakal dikasih tindakan. Coba kalo dirumah, bisa bingung kita..."

Palu sudah diketuk. Dan saya akan menjadi orang ketiga diantara anggota keluarga yang dirawat di rumah sakit ini. Haumm...

Dan kemudian datanglah hal yang paling tidak saya inginkan...
JARUM INFUS T.T

Ini pertama kalinya dalam hidup saya. Dan sumpah, saya ini tipe orang yang tidak suka ditusuk-tusuk. Apalagi dengan jarum yang cukup besar.

"Eeh.. Mas, sakit ngga sih?"
pertanyaan bodoh
"Ya.. kalo dibilang ngga sakit, saya boong.."
"Hhh... Ngga usah deh mas, serius deh, ngga usah"
"Siapa juga yang mau ditusuk? Saya juga ngga mau.."
"...pertama kali dirawat ya?" sambungnya.
"Iyah..." 
"Wah, susah dicari nih pembuluh darahnya... Ayo kepalkan tangannya..."


Nyaa~~ Aww... Saya menjerit tertahan. Pelan sekali. Sungguh cute malah. Halah. 

"Rileks aja Dek.. Nanti kalo adek ngga rileks, saya ikut ngga rileks"
Percayalah Mas, saya sedang berusaha untuk rileks!
 
Dan akhirnya infus itupun terpasang di tangan kanan saya. Ngilu. Hiks, keperawananku (lagi-lagi xD)
Saya berkeringat gara-gara diinfus. Aah.. berharap panas ini cepat turun karena sudah berkeringat, hehe.
Namun, tetap saja, setelahnya kepala dan sekujur tubuh terasa sangat sakit.. Allahu Rabb...

Kamar inap akan disiapkan dalam waktu setengah jam.. Sementara itu, saya terbaring di UGD, menatapi tangan saya yang sudah tidak perawan lagi (cukup tem, cukup!). Kakak saya dan suaminya pun datang. 

"Eh, bisa sakit juga lo?"
groarrrrr. hauummm.

Kakak saya menyayangkan, kenapa orangtua saya tidak menelpon mereka terlebih dahulu. Kalau memang terburu-buru ngga bisa balik ke rumah dulu kan, seenggaknya kakak saya dan suaminya bisa menghampiri kami di klinik ~rumah kakak saya tak terlalu jauh dari lingkungan situ~. Jadinya kan bisa naik mobil, dan ayah saya tidak perlu nangkring di pintu bajaj...
Tapi, itulah orang yang panik. Kadangkala ngga menggunakan akal sehat. Dan saya sungguh salut dengan pengorbanan kedua orang tua saya... Juga salut dengan pengorbanan abang tukang bajaj.. Mungkin sekarang bajaj nya sedang turun mesin akibat mengangkut kami.. Mengangkut saya saja sudah cukup lumayan.. apalagi.. ~~XD

"Kok usus buntu sih? Emangnya perut lo sakit?"
"Ngga tuh"
"Kalo kaki ditekuk ke perut, sakit?"
"Ngga. Pokoknya perut sehat walafiat.."
"Yaudahlah, kan masih ada kemungkinan DBD juga.. Ini kan sekalian kontrol kesehatan.  Kalo emang dua hari sembuh, ya pulang kita..." orangtua saya menengahi.

Akhirnya, saya dibawa ke ruangan rawat inap. Sempet rewel juga:
"Sst, ini yang paling murah ngga?"
"Udah! mikir yang macem-macem aja sih! Yang penting sehat dulu!"
Ups : x

Untunglah, orangtua saya memesan kamar yang kelas III. PERFECT. Mengurangi kerewelan saya. Karena saya ngga ingin merepotkan, lebih dari ini...

Meskipun dipikir-pikir, semakin komplit saja petualangan saya di rumah sakit ini xD. Dahulu kakak saya dirawat di ruangan kelas II, dan ayah saya dulu dirawat di ruangan kelas I. Jadi, kalo ada yang masuk rumah sakit lagi, sisanya tinggal VIP aja yang belum dikunjungi. (Hush! Naudzubillah!)

Hahaha, itu ngga penting lah! Perbedaannya cuma terletak di jumlah pasien satu kamar. Ngga lebih dari itu. Pelayanan relatif sama. Lagipula kalo orang sudah tergeletak, mana sempet sih dia mikir sekelilingnya? :p

Dan begitu saya menempati tempat tidur, seorang perawat pria menghampiri kami dan melakukan protokol standar...
"Permisi Mas.. Saya M***, malam ini saya yang berjaga di sini.. Kalo butuh sesuatu tinggal pencet bel aja Mas.."
di bagian dinding dekat atas tempat tidur saya terdapat sebuah instrumen berkabel yang mirip spidol, dengan sebuah tombol  diujungnya

"Oiya, sebelum ini pernah dioperasi?"
"Pernah mas.. Sunat..."
"Errr.. Yang lainnya?"
"Ngga pernah lagi... Dirawat aja baru sekali..."
"Terus.. ada alergi makanan?"
"Mungkin tongkol dan udang.."
ya, saya pernah alergi makanan ini. Namun, saya terus makan makanan ini hingga terciptalah kekebalan tubuh terhadap alergi xD Namun, siapa tahu bisa kambuh lagi....
"..dan sayuran...."
haha, bercanda.


Saya pun diberikan suntikan penghilang rasa sakit. (what? jarum lagi? @.@)
Berangsur-angsur tubuh ini mulai sedikit rileks...
Kembali mengukur suhu tubuh, masih 39 lebih. Ah...

Malam itu, ibu saya yang menjaga saya.. Sementara kakak dan ayah saya pulang...

Saya belum Shalat Isya. Dan karena saya masih newbie dengan dunia perinfusan maka saya meminta bantuan ibu saya untuk mentayamumi tangan kiri saya. Takut menggerakkan tangan kanan :">
"Eh, gimana caranya?"
serius, ngga tahu? Hush. ngga boleh ngomong gitu.
"Usap tangan di tembok, terus usap di tangan aku.. dari telapak sampai sikut.."

Kemudian ibu saya menggosok-gosok tangannya di tembok, dan kemudian menggosok-gosok tangan saya....

usap.. bukan gosok.. cukup sekali aja.... >_<

Rasanya hari-hari disini akan jadi cukup panjang. Haha.


Dan ketika saya beranjak tidur, saya mencoba untuk mengulang kembali hafalan Quran saya. Beberapa hari sebelumnya, saya memang sedang getol berusaha menambah hafalan..
Dan, bukan ketenangan yang saya dapat, saya malah merasakan pusing, bahkan dada terasa sesak.
Saya teringat dengan kisah Fahri di Ayat-ayat Cinta, yang bibirnya dengan begitu mudah melantunkan ayat-ayat suci Al Quran ketika dirinya sakit. Dan ditengah kesakitan, ia merasakan ketenangan dengan melantunkan ayat-ayat Al Quran..
Sedangkan saya? Bah, malah jadi pusing. Saya meratap. Dan mencoba mengganti zikir dengan istighfar..
Astaghfirullah.. Astaghfirullah..

Ternyata memang sangat sulit untuk menciptakan spontanitas keimanan...
Iman yang datang murni, bukan dari rekayasa..
Yang datang dari segenap hati, setulus jiwa...
Makanya Rasul pernah bersabda,
"Barangsiapa yang di sakaratul mautnya,
ia mengucapkan Laa ilaha ilallah Muhammadurrasulullah,
maka ia dijamin masuk surga."
Dan itu sangat sulit..
Hanya bisa dicapai oleh seorang hamba yang berjiwa murni..
yang senantiasa mengingat Allah di tiap nafasnya...

Sedangkan saya?
Seorang yang fasik,
seorang yang zalim.

Duh..

Astaghirullah.. Astaghfirullah....
Kuyakin ampunanmu dekat ya Allah,
oleh karena itu kau menetapkan sakit pada tubuhku...
semoga sakit ini dapat menjadi penggugur dosa-dosaku duhai Allah..
Astaghfirullah... Astaghfirullah....

4 comments:

  1. yana Says:
  2. tem, tem.. :D
    sekarang pas udah sembuh, ngelawan lagi ga? :D

  3. no comment :p

  4. sarrus Says:
  5. baru baca! kok lucu sih tem jadi senyam senyum sendiri :">
    padahal ini cerita sedih gitu kan ya :')
    dibikin novel aja sekalian hehe

  6. saya sih agak ragu kalo ini cerita sedih, soalnya isinya emang kebanyakan kegokilan-kegokilan aja xD
    apa? novel?
    wah jangan deh.. Aib :p

Post a Comment

Daripada menggunakan "Anonymous" untuk memberi comment, sebaiknya gunakan "Name/URL". URL bisa dikosongkan jika memang dikehendaki.. :)

Terima kasih :)