Kebangkitan Islam, Kebangkitan Peradaban Indonesia

Posted by Tembra Variantoro Saturday, July 31, 2010
Belajar dari Umar ra. dan Pencanangan Tahun Hijriah : “Bangga dengan Peradaban Islam”

Pada tahun 638 M, Gubernur Irak, Abu Musa al-Asy’ari berkirim surat kepada Khalifah Umar ibn Khattab di Madinah, yang isinya antara lain: “Surat-surat kita memiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak berangka tahun. Sudah saatnya umat Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun.”

Khalifah Umar ibn Khattab menyetujui usul gubernurnya ini. Dan terbentuklah panitia yang dipimpin oleh Khalifah Umar sendiri dengan beranggotakan Utsman ibn Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman ibn Auf, Sa’ad ibn Abi Waqqas, Talhah ibn Ubaidillah, dan Zubair Ibn Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan kapan Tahun Pertama dalam kalender yang selama ini digunakan tanpa angka tahun.

Sesungguhnya Khalifah Umar dan para sahabat memiliki pilihan untuk memakai hitungan tahun yang telah ada. Apalagi ketika itu, Persia dan Romawi masih menjadi peradaban terbesar. Jika kita merunut logika, kebiasaan yang terjadi adalah mereka yang besar akan diikuti oleh mereka yang masih kecil. Tapi hal ini tidak berlaku untuk Umar! Umar memilih untuk tampil sebagai muslim, apapun keadaannya saat itu! Sehingga diputuskanlah tahun pertama dalam tarikh Islam jatuh pada tahun dimana Rasulullah memulai Hijrah dari Makkah ke Madinah.

Tampil bangga. Mungkin kalimat itu nampak begitu sederhana, tetapi sesungguhnya tidak sederhana sama sekali. Apalagi jika disorot dari sisi minoritas, betapa harus bertolak belakang dengan tren yang berlaku. Ditambah lagi dengan isu keterbelakangan jika tidak mengikuti tren masyarakat penguasa. Pencibiran. Pengucilan.

Bangga sebagai Muslim. Isyhadu anna bil Muslimuun! Itu lebih tidak sederhana lagi. Amat mustahil seseorang bangga dengan sesuatu jika tidak mengenalnya dengan baik. Bahkan hal ini juga dapat menjadi tolak ukur seberapa dekat seorang muslim dengan agamanya.

Sayangnya, saat ini kebanyakan orang bangga dengan nama, julukan serta gelar yang disandangnya; namun enggan menyandang julukan sebagai Muslim. Hingga banyak diantara mereka yang enggan menyatakan dan menampakkan bahwa dirinya adalah seorang Muslim. Hingga saat ini pun kita dapat melihat mereka yang Islam dan mempunyai ilmu yang cukup tentang Islam, tetapi malah menukarnya dengan beasiswa, segepok fulus, kedudukan, dan sebagainya. Karena iman telah menunduk menghamba kepada dunia dan syahwat membuat buta.

Tapi TIDAK untuk Umar! Umar dikenal sebagai orang yang kokoh dalam keyakinan dan kebanggaannya jika ia telah berada di atas jalan Allah, terserah apa kata dunia. Menariknya, justru pada masa pemerintahan Umar, Islam mencapai tingkat kejayaan dan percepatan yang tidak dialami masa manapun.

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar (634 – 644 M/ 13 – 23 H), penaklukan-penaklukan penting dilakukan oleh kaum Muslimin. Tak lama sesudah Umar diangkat sebagai khalifah, pasukan Muslimin telah menduduki Suriah dan Palestina yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636 M/ 15 H), pasukan Muslimin berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641 M/20 H, pasukan Muslimin telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah. Dan bukan hanya itu, bahkan pasukan Muslimin menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642 M/21 H) mereka mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Dan masih banyak penaklukan lain yang terjadi pada masa kepemimpinan Umar.

Dalam buku 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah (Hart, 1878), penempatan Umar diposisikan diatas tokoh-tokoh kenamaan seperti Charlemagne atau Julius Caesar dalam urutan daftar buku ini. Hal ini dapat dimengerti, karena penaklukan oleh kaum Muslimin di bawah pimpinan Umar lebih luas daerahnya, lebih tahan lama, dan lebih bermakna dibandingkan dengan apa yang diperbuat oleh Charlemagne atau Julius Caesar. 

Mereka yang berharap kejayaan besar dan percepatan yang luar biasa, seharusnya menjadi orang seperti Umar; mempunyai kebanggaan terhadap kepercayaannya, yang dimulai dengan pendalaman pengetahuan terhadap ajaran Islam yang murni dan dikemas dengan iman yang kuat, untuk membangun suatu peradaban berlandaskan nafas Islam.



Penaklukan Konstantinopel: Suatu Refleksi dari Pentingnya “Perbekalan”

Rasulullah pernah bersabda :
Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya” (HR Ahmad)
Janji itu membakar semangat kaum Muslimin untuk membebaskan Konstantinopel. Dimulai dari zaman Muawiyah ibn Abu Sofyan tahun 44 H, hingga zaman Kekaisaran Turki Usmaniyah. Namun usaha itu selalu menemui kegagalan.

Konstantinopel merupakan bandar termahsyur di dunia saat itu, dengan penjagaan yang super ketat. Lokasinya yang strategis membuat bandar ini menjadi begitu mahsyur. Dan kedudukannya sebagai ibukota Kekaisaran Romawi Timur membuat kedudukan dan pengamanannya menjadi semakin kuat.

Namun, janji Rasululullah telah terbukti.

27 Mei 1453 M/ 18 Jumadil Awal 857 H, ratusan ribu pasukan Muslim dibawah pimpinan Muhammad II (Muhammad Al-Fatih) berhasil menaklukkan Konstantinopel.

Dan siapakah Muhammad Al Fatih itu?

…sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya…

Muhammad Al Fatih, menguasai 7 bahasa ketika berumur 23 tahun, menjadi gubernur ketika menjadi 19 tahun, dan semenjak baligh hingga meninggal tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajud sekalipun.

Subhanallah!

Bukanlah kekuatan dan kedudukan yang dimaksudkan Rasulullah sebagai sehebat-hebatnya Amir, melainkan kualitas keimanan.

Simaklah pidato Al-Fatih dihadapan pasukannya sebelum penaklukan Konstantinopel:
Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam.
Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran.
Peradaban dan kejayaan Islam ini dibangun atas suatu perbekalan, dan sebaik-baik perbekalan adalah iman yang lurus.


Peradaban Islam dan Indonesia

Dunia berhutang kepada peradaban Islam. Ketika masa perang salib, terjadilah pertukaran ilmu dan budaya antara pasukan Muslimin dan tentara salib. Ketika berinteraksi dengan Islam, Eropa mendapatkan begitu banyak manfaat, mulai dari ilmu pengetahuan hingga adab etika. Sejarahwan Eropa mengakui hal ini. Hanya sejarahwan yang menyembunyikan kebenaran sajalah yang mengingkarinya.

Beberapa contoh kecil dari transfer ilmu pengetahuan itu, misalnya:

Berbagai buku diterjemahkan dari bahasa arab ke bahasa latin, bahasa Thalia dan Ibrani. Buku-buku tersebut memenuhi perpustakaan Eropa di era-era awal. Dengan kata lain, telah berlangsung penerjemahan besar-besaran dari bahasa Arab ke bahasa latin.

Dalam karya Ferrari de Gardo, misalnya; Ibnu Sina dikutip lebih dari tiga ribu kali, al-Razi dan Galen masing-masing seribu kali, sedang hippocrates hanya seratus kali. Dengan demikian, kedokteran Eropa abad ke-15 dan ke-16 masih merupakan kedokteran yang sedikit lebih luas dari sekedar kepanjangan kedokteran arab.

Peradaban Islam, merupakan peradaban megah, yang dibangun atas dasar ketundukkan kepada Allah. Megah, karena ridha Allah.
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kanami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS 7:96).
Kini, peradaban Islam seolah-olah diinjak-injak oleh peradaban Barat. Kecintaan kepada dunia membuat kebanyakan Muslim menghilangkan kebanggaannya terhadap Islam. Paham materialisme, hedonisme, pluralisme, dan sekularisme seolah-olah merasuk ke dalam tiap-tiap sumsum manusia. Dan hal itu diperburuk dengan kemiskinan, kebodohan, sikap pasrah, dan apatisme terhadap sesama Muslim.

Muhammad ‘Abduh (1849-1905), Mufti Agung Mesir, setelah ia melakukan perjalanan ke Paris, konon ia mengatakan, “Di Prancis aku melihat para Muslim walau tidak ada Islam; di Mesir, aku melihat Islam tapi tidak melihat Muslim.

Kemunduran peradaban Islam bukanlah kesalahan agama Islam, melainkan merupakan akibat dari kemunduran Muslim dalam mengaplikasikan agama Islam dalam kehidupan.

Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar untuk membangun peradaban yang megah. Namun, kenyataannya masyarakat muslim Indonesia masih belum bisa terlepas dari penyakit utamanya; kehilangan kebanggaan sebagai seorang Muslim!

Namun, harapan itu masih ada.

Ya, harapan itu selalu ada, karena pada hakekatnya perjuangan seorang manusia tidak akan pernah berhenti kecuali ketika kakinya telah melangkah di pintu surga.

Dan perjuangan itu kini berada di pundak kita, para pemuda, yang akan meneruskan keberlanjutan peradaban Indonesia.....

Tembra Variantoro


sempat dimuat di Koran Kampus edisi September - Oktober 2009 atas permintaan khusus xD
dan kemudian saya repost di blog ini supaya draft tulisannya tidak percuma begitu saja.
semoga ada manfaatnya.

3 comments:

  1. ummu qoim Says:
  2. menarik...karya yg indah...

  3. assalamualaikum bang,salam kenal,bagus banget artikelx,sangat bermanfaat,semangat!!!!!!!!!!!

  4. waalaikumsalam.. salam kenal juga.. :D
    alhamdulillah, terima kasih atas kunjungannya.. semangat!! =D

Post a Comment

Daripada menggunakan "Anonymous" untuk memberi comment, sebaiknya gunakan "Name/URL". URL bisa dikosongkan jika memang dikehendaki.. :)

Terima kasih :)