Dzalimnya Anak Ilmu Komputer

Posted by Tembra Variantoro Sunday, June 20, 2010
"Jika kamu menghitung - hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang." (QS. An Nahl : 18)

"Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan." (HR. Tirmidzi) 

Awal Juni, inilah saat-saat dimana nilai-nilai di SIAK NG mulai bermunculan. Hasil jerih payah belajar dan berjuang selama empat bulan, terepresentasikan dalam bait-bait huruf. A, B, C, D, atau mungkin E. Ada nilai yang sesuai dengan ekspektasi, ada pula nilai-nilai yang keluar secara ghaib. Ada penyesalan yang datangnya selalu terlambat, dan ada pula pencari kambing hitam. Disinilah, terkadang muncul kedzaliman kami, para mahasiswa. Atau kalau boleh saya sempitkan lagi, mahasiswa ilmu komputer.

Bisa dibilang, kamilah penjelajah dunia maya sejati. Beragam jejaring sosial, chatting, atau blog telah kami miliki. Semua orang dapat mengaksesnya, semua orang dapat membacanya. Sayangnya, kami tidak bisa menahan syahwat kami untuk tidak mengeluh. Jika facebook sudah terbuka, keluar sajalah semua keluhan. Jika tangan ini mulai terampil mengetik di blog, maka mengalirlah segenap ratapan atas kesusahan, seolah-olah saya adalah manusia paling malang di dunia. Manusia adalah makhluk yang senantiasa berkeluh kesah. Dan inilah, kedzaliman kami. Sebagai MAHASISWA.

Kami seringkali mengeluhkan nilai-nilai kami, secara frontal, langsung, hingga semua orang bisa membacanya. Entahlah, mungkin agar orang bersimpati kepada kami, atau mungkin hanya karena kami ingin mengeluh. Tanpa kami sadari, kami menyakiti hati saudara kami. Bagaimana tidak? Adakalanya kami menulis seperti ini: "Sial, nilai gue turun dari A jadi A- T.T", "Nilai A gue cuma satu T.T", "Aah.. dapet C :'(", dan hal lainnya. Bayangkan, bagaimana perasaan orang yang tidak lulus suatu mata kuliah dan membaca ini?? Selalu ada yang lebih malang daripada kita. Seharusnya kita bisa lebih menahan diri....

Mudah untuk dikatakan, tapi sulit untuk dilaksanakan. Awalnya, saya juga masih tidak ikhlas dengan nilai saya yang kurang maksimal. Pun manakala saya berhasil untuk tidak mengumbar-umbar keluhan ini, hati ini masih diliputi rasa sedih. Tidak terima. Menyesal. Dan segenap kambing hitam lainnya. Hingga akhirnya Allah menunjukkan saya suatu kejadian yang sangat simple, tapi sangat mengena di hati ini.

Hari itu, dimana seseorang meminta saya untuk mengajarinya komputer. Beliau memang kelahiran tahun 60-an, maka wajar sekali jika tidak familiar dengan komputer. Meskipun dahulu beliau sempat berkuliah di jurusan administrasi dan keuangan, namun perkuliahan zaman dahulu tidak menggunakan komputer. Mesin tik! Ditambah lagi, dengan profesi beliau yang kini menjadi ibu rumah tangga, maka komputer bukan menjadi gadget teknologi yang menarik hati beliau.

Ternyata, begitu sulit untuk mengajari seseorang yang kehidupannya sangat jarang berinteraksi dengan komputer! Memegang mouse saja masih begitu canggung. Apalagi dengan istilah "double-click", "Enter", dan sebagainya!

Disinilah Allah membuka mata saya. Bahwa sesungguhnya BISA MEMAKAI KOMPUTER adalah juga suatu karunia tersendiri! Dan inilah, nikmat yang sering kami lupakan. Inilah, DZALIMNYA ANAK ILMU KOMPUTER. Kami telah gagal untuk mensyukuri hal paling mendasar yang telah kami kuasai.
"Hikmah adalah barang hilang orang beriman, di mana pun dia menemukannya, maka dia lebih berhak memungutnya." (Rasulullah SAW)
"..... Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 243)

Naudzubillah, jangan sampai...

4 comments:

  1. satria Says:
  2. Keinginan untuk lebih maju dari keadaan sekarang bukan berarti tidak bersyukur kan, kak? :D

  3. Dikirain apa zalimnya tem,, memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa ternyata banyak hal yang harus kita syukuri dalam hidup. Kitanya aja yang tidak "membuka mata".

  4. @satria : insya Allah... yang salah adalah kalo kita terlalu sibuk dengan ambisi sehingga mengingkari nikmat yang ada.. :) wallahu 'alam

    @miftah : emangnya dikira apa? hehe :p yang jelas, momen dimana ketika Allah menampakkan kesalahan di dalam hati adalah momen yang berharga, ngga boleh saya sia-siakan.. ^^

  5. Alhamdulillah saya juga dapat hikmahnya... bahkan saya malah sering galak sama yang minta ajarin ini itu... jadi terinspirasi untuk lebih sabar...

Post a Comment

Daripada menggunakan "Anonymous" untuk memberi comment, sebaiknya gunakan "Name/URL". URL bisa dikosongkan jika memang dikehendaki.. :)

Terima kasih :)